SISTEM BILANGAN DIGITAL
Sekolah Menengah Atas
(SMA)
Tahun Pelajaran : ……………….
Semester :
II (Dua)
Kelas :
XII – MIPA materi Ajar : Bilangan Digital
– 1
Hari/tanggal :
……………….
Waktu :
……………….
Daftar Isi
1.
Pengertian Bilangan Digital
2.
Bilangan Digital
3.
Operasi Bilangan Biner
3.1.
Konversi Desimal ke Biner
3.2.
Konversi Biner ke Desimal
3.3.
Operasi Penjumlahan Biner
3.4.
Operasi Pengurangan Biner
SISTEM
BILANGAN DIGITAL
1.
Pengertian Rangkaian
Digital
Elektronika
Digital bermula pada saat manusia pertama kali belajar mencacah, belajar
mengkaitkan nama – nama bilangan dengan objek – objek dalam suatu kelompok.
Dahulu pencacahan dilakukan dengan jari (digit) dan dengan alasan ini nama –
nama bilangan dasar seperti satu, dua, tiga, … dikenal sebagai angka digit.
Penamaan
biangan – bilangan mengarah kepada aritmatika serta semua jenis peranti
penghitung seperti abacus (sempoa), batang Napier (mistar hitung pertama), dan
kalkulatpr Pascal (mesin penjumlah yang pertama). Penemuan – penemuan ini
mengarah pada suatu pemecahan masalah dengan pemanfaatan logika agar diperoleh
kesimpulan – kesimpulan logika.
Metode
logika tersebut berkembang pesat pada abad kesembilan belas dengan bermunculan penemuan
– penemuan rangkaian digital seperti komputer generasi pertama yang menggunakan
tabung hampa.
Dalam
perkembangan, terjadilah kesepakatan secara internasional dalam penggunaan
logika nol “0” dan logika satu “1” dalam aritmatika logika digital yang dikenal
sebagai biner.
Rangkaian
digital merupakan suatu rangkaian elektronika yang hanya mengenal dua keadaan
nilai pada bagian input maupun bagian output yaitu, keadaan nilai rendah “0”
dan keadaan nilai tinggi “1”.
2.
Bilangan Digital
Sistem
bilangan digital terdiri dari :
a) Bilangan Desimal,
bilangan berbasis sepuluh (10).
0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
b) Bilangan Biner,
bilangan berbasis dua (2).
0 dan 1.
c) Bilangan Octal,
bilangan berbasis delapan (8).
0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
d) Bilangan Hexadecimal,
bilangan berbasis enam belas (16).
0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, A, B, C, D, E,
F.
3.
Operasi Bilangan
Biner
3.1.
Konversi bilangan
decimal ke Biner
Cara yang dikenal dalam mengubah bilangan
desimal ke dalam bilangan biner adalah metode Double – Dabble. Dalam metode
Double – Dabble, kita terus – menerus membagi bilangan desimal dengan 2, dan
menuliskan sisanya setelah masing – masing pembagian. Sisa – sisa tersebut
diambil dalam urutan kebalikannya, akan membentuk biner.
Bilangan Bulat
ó 510 = (…) 2.
Hasil perhitungan di atas dapat disusun dalam
bentuk 4–byte atau 8–byte.
Sehingga 510 = (0101)2.
Tabel konversi
decimal – biner.
Bilangan Pecahan
Untuk bilangan pecahan, bagian desimal
kalikan dengan 2 dan catatlah bawaan (carry) pada posisi bulatnya. Bawaan –
bawaan yang diambil dalam urutan maju merupakan pecahan binernya.
Contoh :
Konversikanlah bilangan (0,125)10 = (…) 2
Penyelesaian
Untuk menuliskan jawabannya, maka penulisan
harus dilakukan dari atas ke bawah.
Sehingga (0,125)10 = (0,001)2.
Pembuktian terbalik
ó(0,001)2
ó 0 x 2 – 1 + 0 x 2 – 2
+ 1 x 2 – 3
ó 0 x ½ + 0 x ¼ + 1 x 1/8
ó 0 + 0 + 1/8
ó 0,12510.
Bilangan Campuran
ó (5,125)10 = (…)2
Penyelesaian
Caranya sama dengan cara sebelumnya. Kemudian
digabungkan kembali.
Bilangan Bulatnya,
Bilangan Pecahannya,
Sehingga hasilnya, (5,125)10 = (101, 001)2.
Latihan
Soal : 1
Ubahlah bilangan desimal di bawah ini ke
bilangan biner.
a) 9
b) 25
c) 43
d) 68
e) 120
Soal : 2
Ubahlah bilangan
desimal di bawah ini ke bilangan biner.
a) 0,625
b) 0,85
c) 21,6
d) 40,85
e) 8,625
3.2. Konversi Biner ke
Desimal
Konversi bilangan
biner ke bilangan desimal dapat dilakukan dengan beberapa cara yang salah satunya
menggunakan metode Lurusan (Streamlined Mthode). Berikut caranya,
·
Tulislah
bilangan biner yang bersangkutan.
·
Tepat
di bawah bilangan biner dan tuliskan 1, 2, 4, 8, … (…. ,22, 21,
20).
·
Jika
terdapat angka nol pada suatu posisi angka, coretlah bobot desimal
bagi posisi tersebut.
·
Tambahkan
bobot – bobot yang masih tertinggal untuk memperoleh
ekivalen desimalnya.
Contoh : 1
Konversikanlah 1010
menjadi bilangan desimal.
Penyelesaian
Cara I
ó 1 x 23 +
0 x 22 + 1 x 21 + 0 x 20.
ó (10)10.
Cara II
ó 1 x 8
+ 0 x 4 + 1 x 2
+ 0 x 1
ó (10)10.
Contoh : 2
Konversikanlah
1010,10 menjadi bilangan desimal.
Penyelesaian
Langkah Pertama,
ó 1 x 23 +
0 x 22 + 1 x 21 + 0 x 20.
ó 10
Langkah kedua,
ó 1 x 2 – 1 +
0 x 2 – 2
ó 1 x ½
ó 0,5
Langkah ketiga
Kita gabungkan
hasilnya dan akan kita peroleh hasilnya.
ó (1010,10)2
= (10,5)10.
Latihan
Soal : 1
Ubahlah bilangan biner
berikut ini ke bilangan desimal.
a) 10101
b) 111
c) 1001110
d) 110111
Soal : 2
Ubahlah bilangan
biner di bawah ini ke bilangan desimal.
a) 0,101
b) 0,1101
c) 110,001
d) 1011,11
3.3.
Operasi Penjumlahan
Untuk mendapatkan kaidah – kaidah sederhana
bagi penambahan biner, akan dibahas empat hal sederhana.
a) Bila tidak ada
digabungkan dengan tidak ada, diperoleh tidak ada.
Pernyataan biner 0 + 0 = 0.
b) Bila tidak ada
digabungkan dengan 1, diperoleh 1. Pernyataan 0 + 1 = 1.
c) Bila 1 digabungkan
dengan tidak ada, diperoleh 1. Pernyataan biner adalah 1 + 0 = 1.
d) Bila kita
menggabungkan 1 dengan 1 akan diperoleh 10. Pernyataan biner adalah 1 + 1 = 10.
Contoh
: 1
Contoh
: 2
Latihan
Soal
: 1
Jumlahkan bilangan
biner berikut ini.
a) 101 + 110
b) 111 + 110
c) 1011 + 1010
3.4.
Operasi Pengurangan
Untuk mengurangkan bilangan biner, terlebih
dahulu kita perlu membahas empat hal sederhana :
a) 0 – 0 = 0
b) 1 – 0 = 1
c) 1 – 1 = 0
d) 10 – 1 = 1
Pengurangan bilangan biner dapat dilakukan
dengan beberapa cara, yakni :
1.
Pengurangan Kolom
demi Kolom
Untuk mengurangkan bilangan yang lebih besar,
kurangkanlah kolom demi kolom, dengan meminjam dari kolom sampingnya bilamana
perlu.
Contoh : 1
Latihan :
Soal : 1
Hitunglah hasil pengurangan berikut ini :
a) 1101 – 111
b) 100 – 111
c) 10111 – 11011
2.
Pengurangan dengan
metode komplemen.
Dalam metode ini ada dua komplemen, komplemen
K – 1 dan komplemen K – 2.
Komplemen (K – 1) :
1 à 0
0 à 1
1101 à 0010
Contoh : 1
Contoh : 2
Latihan
Soal : 1
Hitunglah hasil pengurangan bilangan biner
berikut :
a) 111 – 101
b) 1101 – 1010
c) 1010 – 0010
d) 11011 – 01101
4.
Konversi bilangan
decimal ke Octal
Contoh :
Konversikan (144,64)10 = (…)8.
Penyelesaian
Catatan
Angka 2 tidak dapat dibagikan lagi. Langsung
dihentikan dan langsung tarik ke atas sebagai jawabannya. Maka hasil 14410
sama dengan 2208.
Sedangkan decimal 0,6410 :
ó 0,64 x 8 = 5,12 ⟶ 5
ó 0,12 x 8 = 0,96 ⟶ 0
ó 0,96 x 8 = 7,68 ⟶ 7
ó 0,68 x 8 = 5,44 ⟶ 5
ó 0,44 x 8 = 3,52 ⟶ 3
ó 0,52 x 8 = 4,15 ⟶ 4
ó 0,15 x 8 = 1,20 ⟶ 1
ó 0,20 x 8 = 1,60 ⟶ 1
ó 0,60 x 8 = 4,80 ⟶ 4
ó 0,80 x 8 = 6,40 ⟶ 6
ó 0,40 x 8 = 3,20 ⟶ 3
ó 0,20 x 8 = (hentikan)
Sehingga pecahan Octalnya sama dengan,
(0,50753411463)8.
Maka hasil akhirnya dapat kita tuliskan
(144,64)10 = (220,50753411463)8.
Pembuktian
ó 2208
ó 2 x 82 + 2 x 81
+ 0 x 80
ó (2 x 64) + (2 x 8) + 0
ó 128 + 16 + 0
ó 14410
ó 0,507534114638
ó (5 x 8 – 1) + (0 x 8
– 2) + (7 x 8 – 3) + dst
Silahkan dicoba sampai klar, untuk sebuah
pembelajaran yang berarti.
5.
Konversi bilangan
decimal ke Hexadecimal
Contoh
Konversikan 32410 = … 16.
Penyelesaian
Pembuktian,
ó (1 x 162) + (4 x 161)
+ (4 x 160)
ó 256 + 64 + 4
ó 324 (terbukti)
Latihan
Soal : 1
Konversikan bilangan desimal berikut ke dalam
biner.
a) 1510 = …
b) 3210 = …
c) 20110 = …
Soal : 2
Konversikanlah bilangan biner berikut ke
dalam desimal.
a) 1101112 =
…
b) 1000 00002
= …
c) 1010 11112
= …
Soal : 3
Konversikan bilangan berikut ini.
a) (1/4)10 =
(…. )2
b) (10)10 =
(….. )2
c) (1212,12)10
= (…. )2
Soal : 4
Konversikanlah nilai berikut ini
a) (234)10 =
(…..)8 = (….. )16
b) (256)8 =
(…. )16
c) (64,64)8 =
(…. )16
Soal : 5
Konversikanlah nilai berikut
a) (BCA)16 =
(…. )8
b) (256)10 =
(….. )16
c) (F1FA)16 =
(…. )10
Komentar
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar dengan Bijak sesuai dengan semangat kemajuan yang membangun Blog ini dan Jangan keluar dari topik